Lebak Wangi, PortalBanten.id | Upaya pencegahan dan penanggulangan Tuberkulosis (TBC) terus digencarkan oleh otoritas kesehatan di Kabupaten Serang. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Lebak Wangi melaksanakan kegiatan Penemuan Kasus Tuberkulosis (TBC) Aktif dan Pasif di Desa Lebak Kepuh, Senin (10/11/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional TOSS TBC (Temukan, Obati, Sampai Sembuh) yang bertujuan untuk memutus mata rantai penularan penyakit TBC di tingkat keluarga dan masyarakat.
“Kami fokus pada penemuan kasus, baik yang aktif yakni warga yang sudah menunjukkan gejala seperti batuk lama atau batuk berdarah maupun yang pasif, yaitu orang-orang yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC positif,” jelas Kepala UPT Puskesmas Lebak Wangi, dr. Elly, di lokasi kegiatan.
Sejumlah warga, yang didominasi oleh ibu-ibu dan anak-anak, tampak antusias mengikuti sosialisasi dan pemeriksaan kesehatan yang digelar di teras salah satu rumah warga. Kegiatan ini meliputi skrining gejala TBC, edukasi pencegahan, serta pemeriksaan kontak erat terhadap penderita TBC.
dr. Elly menjelaskan bahwa sasaran utama skrining kali ini adalah balita, karena kelompok usia tersebut tergolong rentan terhadap infeksi TBC akibat daya tahan tubuh yang masih lemah.

“Balita menjadi prioritas kami dalam deteksi dini, terutama yang tinggal serumah dengan pasien TBC aktif. Dengan skrining sejak dini, kita bisa mencegah penularan lebih luas,” ujarnya.
Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, di Desa Lebak Kepuh tercatat lima warga yang terkonfirmasi TBC, menjadikannya desa dengan angka kasus TBC terendah di wilayah kerja Puskesmas Lebak Wangi. Namun demikian, data tersebut masih bersifat tentatif.
“Bisa saja di lapangan jumlahnya lebih atau kurang, mungkin tiga orang atau lebih. Oleh karena itu, kegiatan penemuan kasus ini sangat penting untuk memastikan data yang valid,” ujar Saepudin, Kepala Desa Lebak Kepuh.
dr. Elly menambahkan, ciri-ciri warga yang patut diwaspadai mengidap TBC di antaranya batuk berdahak lebih dari dua minggu, demam tanpa sebab jelas, berat badan turun, dan sering berkeringat malam hari.
“Kalau kami menemukan warga dengan gejala seperti itu, langsung kami lakukan pemeriksaan dahak dan rontgen dada bila diperlukan. Bila hasilnya positif, pasien segera didaftarkan dalam program pengobatan TBC gratis di puskesmas,” terangnya.
Selain itu, dr. Elly juga mengapresiasi peran aktif Pemerintah Desa Lebak Kepuh yang telah mendukung kegiatan penemuan kasus ini.
“Kami berterima kasih kepada Pak Kepala Desa dan seluruh perangkat desa yang telah membantu tim kami, mulai dari mobilisasi warga hingga penyediaan tempat kegiatan. Kolaborasi seperti ini sangat penting untuk keberhasilan eliminasi TBC,” ujarnya.
Ia menegaskan, pihaknya akan terus menggencarkan kegiatan serupa di seluruh wilayah kerja. “Kami berkomitmen melakukan deteksi dini dan pendampingan pengobatan agar tidak ada kasus TBC yang terlewat. Ini bagian dari upaya menuju eliminasi TBC tahun 2030,” tegasnya.
Dengan kegiatan penemuan kasus secara proaktif ini, diharapkan angka penularan TBC di wilayah kerja UPT Puskesmas Lebak Wangi dapat ditekan secara signifikan, sejalan dengan slogan “Lindungi Keluarga, Lindungi Bangsa.”
Kegiatan serupa dijadwalkan akan terus berlanjut ke desa-desa lain di bawah wilayah kerja UPT Puskesmas Lebak Wangi untuk mendukung target eliminasi TBC di Indonesia.
Laporan: Saipul Bahri|Editor: Dodi Surya Pratama









